Industri Baja Dalam Negeri Butuh Dukungan Lebih Pemerintah

(Berita Daerah – Nasional) Presiden Direktur PT Krakatau Steel, Irvan Kamal Hakim menemui Menteri Perindustrian M.S Hidayat untuk membahas perkembangan industri baja dalam negeri. Irvan juga turut menyampaikan keinginan dari industri baja dalam negeri untuk bisa mendapatkan dukungan lebih dari pemerintah.

Irvan di kantor Kementerian Perindustrian di Jakarta, Senin (15/9) kemarin mengatakan bahwa didalam kunjungannya itu disampaikan beberapa hal terkait dengan industri baja nasional. Pertama pihaknya menyampaikan keinginan dari usaha patungan Krakatau Steel dengan Posko Energi yang bernama Krakatau Posko Energi (KPE) yang merupakan penghasil industri listrik dengan kapasitas yang dihasilkan mencapai 200 mega watt.

Irvan berharap kepada Kementerian Perindustrian untuk memberikan bantuan serta dukungan agar sektor usaha ini bisa diperhitungkan seperti pemberian insentif tax holiday. Menanggapi hal itu Menteri Perindustrian M.S Hidayat berjanji akan membahas lebih lanjuta permintaan Krakatau Steel tersebut.

Berikutnya yang kedua adalah ucapan terima kasih yang diberikan oleh pihak Krakatau Steel kepada M.S Hidayat atas dukungannnya terhadap kemajuan industri baja yang ada di Indonesia. Hidayat selama ini dianggap bersungguh-sungguh memperjuangkan perkembangan industri baja nasional selama dirinya menjabat sebagai Menteri Perindustrian.

Ketiga yaitu berkaitan dengan perlunya penajaman kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), karena dalam prakteknya sering terjadi penyimpangan. Penajaman kebijakan tersebut perlu dilakukan agar semua pengadaan barang material dan pekerjaan tidak menggunakan produk impor sehigga produk dalam negeri dapat terserap untuk kegiatan produksi industri nasional.

Pada saat ini industri baja nasional sedang mengalami tantangan berupa masih defisitnya jumlah produksi terhadap tingkat konsumsi baja dalam negeri. Saat ini kapasitas produksi industri baja nasional baru mencapai angka 7 juta ton, sementara tingkat konsumsi baja dalam negeri mencapai angka 12 juta ton.

Kondisi tersebut membuat pasar baja domestik diserbu oleh produk-produk baja yang berasal dari Tiongkok, hal ini ditambah dengan keadaan Tiongkok yang mengalami kelebihan pasokan (over supply).

Oleh karena itu Direktur Eksekutif Indonesia Iron & Steel Industry Association (IISIA), Hidayat Triseputro meminta kepada pemerintah untuk mempersiapkan kebijakan yang mendukung industri baja nasional yang meliputi larangan terbatas impor baja serta mempercepat pembangunan infrastruktur di dalam negeri.

Melalui regulasi yang tepat dari pemerintah dan juga dukungan yang berasal dari pemerintahan baru mendatang untuk membangun infrastruktur, diprediksi industri baja nasional dapat tumbuh sesuai dengan keinginan dari pemerintah.

Untuk itu pemberlakuan larangan terbatas impor baja melalui Peraturan Menteri Perdagangan No 28/MDAG/PER/6/2014 tentang Ketentuan Impor Baja Paduan akan mengerem laju impor baja paduan yang berasal dari Tiongkok.

Dengan kebijakan tersebut maka produsen baja nasional akan memiliki ruang lebih besar untuk dapat mengisi pasar baja nasional sehingga produsen baja dalam negeri dapat memperoleh keuntungan sekaligus mengamankan pasar baja domestik.

Write a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *